Dana yang bergulir untuk mensukseskan dua kegiatan akbar tersebut sangat besar. Apabila setiap klub membutuhkan dana 15 miliar untuk satu musim kompetisi, berapa kira-kira jumlah uang yang bergulir dalam satu musim tersebut. Tentu jumlah yang sangat fantastis. Dari mana uang sebesar itu? Jawabnya mudah dan gampang, dari uang rakyat yang suka maupun tidak suka sepak bola, yang menonton maupun tidak menonton sepak bola, yang punya televisi maupun yang tidak punya. Dana APBD yang mestinya untuk pendidikan, jalan, dan fasilitas umum yang lain justru untuk ramai-ramai menyelenggarakan perhelatan sepak bola. Ironisnya untuk cabang olah raga amatir justru minim anggaran ( minim pembinaan ), sehingga tidak salah kalau dalam ajang Sea Games bendera Merah Putih "malas" berkibar apalagi ajang Asian Games atau Olimpiade, mimpi kali yee.
Uang milyaran rupiah tersebut kalau mau dilihat ternyata belanja terbesar adalah untuk gaji/honor pemain khususnya pemain asing, padahal untuk satu klub bisa mengontrak 5 orang pemain.
Di ajang Liga Indonesia 2007 terbukti sudah bahwa ternyata pemain asing tidak dapat menjadi contoh dan teladan dalam soal sportifitas, bahkan sering berulah dan merugikan/mencederai pemain lokal, memicu emosi pemain lain/suporter. Tapi kita mau membayar mahal kan buat mereka!
Dimana pemain lokal? Tiarap! Karena diserbu legiun asing.
Sampai kapan PSSI akan membiarkan keadaan seperti ini ?
Sebagai rakyat yang taat membayar pajak sekaligus juga senang menonton sepak bola meski bukan penggemar berat, merasa rugi juga kalau uang pajak yang dibayarkan ternyata untuk membiayai legiun asing yang menggusur pemain lokal.
Kalau ingin memajukan persepak bolaan tanah air, pemerintah harus bertindak tegas dalam soal pembiayaan klub-klub sepak bola. Setiap klub sepak bola harus berani diaudit secara transparan dan ditampilkan secara terbuka di media masa. Saya yakin akan banyak pengusaha yang berminat menjadi sponsor klub-klub sepak bola apabila mau membuka manajemen secara tranparan kepada publik. Jangat takut, karena ketakutan kepada auditor menjadi indikator korupnya klub-klub sepak bola. Jangan mengemis terus kepada DPRD.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar