"Bukan lautan hanya kolam susu", sepenggal bait dari lagu yang pernah terkenal tempoe doloe yang merupakan sebagian dari kisah keberadaan bumi nusantara yaitu Indonesia. Segala kekayaan ada dan semua tersedia di sana. Tuhan sedang bermurah hati pada saat lagu tersebut direnungkan dan diciptakan.
Kekayaan Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke sungguh luar biasa besarnya. Cukup bahkan lebih dari cukup untuk menjadi modal bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan makmur.
Coba kita merenung sebentar, kira-kira apakah sepenggal bait lagu di atas tadi dapat tercipta pada masa kini? Agak sulit dan nampaknya juga mulai jarang orang menciptakan lagu bertema alam yang mempesona, karena nampaknya alam mulai murka tidak di musim hujan tetapi juga di musim kemarau. mari kita renungkan bersama, siapa yang mertinya bertanggung jawab pada pengelolaan alam sehingga alam tidak murka.
Sebenarnya prinsip "tabur-tuai" melekat didalam kehidupan umat manusia setiap hari. Masyarakat menabur sampah pasti menuai banjir.
Kebiasaan-kebiasaan yang sudah menjadi sikap dan gaya hidup sebagian besar masyarakat Indonesia adalah hidup menyampah. Kebiasaan tersebut sudah menjadi budaya yang mengakar sehingga sangat sulit untuk mengubahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar